Senin, 26 Januari 2009

TEKA-TEKI KOPI POLONIUM


TEKA-TEKI KOPI POLONIUM
OLEH: TITIS SARI PUTRI

Hari mulai gelap ketika aku sampai di rumah. Suasana di luar semakin suram dengan adanya kabut tebal dan udara yang lebih dingin dari biasanya. Membuat orang lebih senang berada di rumah. Rasa penasaranku sudah berkurang. Mengingat penyelidikan yang kulakukan sepanjang siang tadi cukup banyak memberiku petunjuk tentang kasus yang sedang ku tangani ini.
Desa yang mula-mula tenang ini di kejutkan oleh dua kasus pembunuhan sekaligus, pembunuhan pertama terjadi tiga minggu yang lalu dan pembunuhan kedua terjadi dua hari yang lalu. Tepatnya, pada tanggal 6 November. Kasus kedua terjadi di sebuah hotel yang berjarak sekitar 4 km dari tempatku tinggal. Yaitu tempat kejadian pembunuhan yang sama dengan kasus pertama. Pada kasus pertama aku tidak tahu banyak, aku hanya di beri tahu rekan kerjaku saja, selengkapnya aku hanya membaca di surat kabar, karena waktu itu aku sedang sibuk bekerja ke luar kota ikut mencari jejak pelaku ilegal logging.
Pada kasus kali ini seorang pria berkewarganegaraan Rusia ditemukan tewas terkapar di lantai kamar sebuah hotel tempatnya menginap. Korban di ketahui bernama Andrey Akinfeev. Seorang mantan Agen Dinas Rahasia Rusia(KGB). Korban berumur 35 tahun, belakangan ini diketahui korban datang ke Indonesia untuk menyelidiki sendiri kematian sahabat karibnya yang tiga minggu yang lalu tewas di tempat yang sama. Setelah keluar dari pekerjaannya sebagai Agen Dinas Rahasia Rusia, ia memutuskan untuk menjadi detektif swasta di kotanya.
Menyelidiki kasus ini, berarti juga harus menelusuri kasus pertama. Karena sudah pasti bahwa ada hubungan kasus ini dengan yang sebelumnya. Korban pada kasus sebelumnya adalah pria berkewarganegaraan Inggris bernama Adam Robert Browner, seorang pimpinan perusahaan pertambangan di Inggris. Korban juga berumur 35 tahun. Korban datang ke Indonesia karena ia ingin mengunjungi kekasih yang dua minggu lagi akan dinikahinya. Rekan kerja korban di Inggris mengatakan bahwa Adam, panggilan akrabnya datang ke Indonesia untuk mempersiapkan pernikahannya dengan tunagannya. Tunagan korban diketahui bernama Grace Natalie, seorang model papan atas keturunan campuran antara Indonesia dan Jerman yang masih muda, usianya baru 26 tahun.
Kedua korban tewas dengan cara yang sama oleh larutan zat beracun yang disamarkan melalui secangkir kopi panas yang nikmat yaitu racun talium radioaktif, atau lebih dikenal dengan sebutan polonium. Polonium biasa digunakan dalam dunia kedokteran, berupa kimia logam beracun bewarna putih kebiruan, biasanya dapat kita temui juga di dalam racun tikus. Namun, dalam dunia kedokteran sekalipun sangat diwaspadai kegunaanya serta pemakaian dosisnya karena zat ini sangat berbahaya, karena mudah larut dalam cairan dan warnanya yang membuatnya sulit untuk di deteksi apabila sudah larut. Gejala yang ditimbulkannya adalah pusing, mual, muntah, diare, rambut rontok, dan bila dalam dosis yang lebih tinggi atau penderita tidak segera ditangani, racun ini dapat menyebabkan kejang, gangguan jiwa hingga kematian. Pembuatan hingga pengirimannya antar negara sangat di batasi, oleh karena itu, sudah jelas bahwa pembunuhnya bukanlah sembarang orang yang dapat dengan mudah mendapatkan racun mematikan ini. Berdasarkan penyelidikan tim forensik, racun polonium ini adalah murni hanya polonium, dan tidak bersama campuran zat lain seperti dalam racun tikus.
Keadaan kedua korban sendiri memungkinkan bahwa korban memang meminum racun melalui secangkir kopi. Terbukti dalam air liur dan lambung korban terdapat larutan kopi yang bercampur polonium. Sebuah cangkir yang pecah kopinya tercecer di lantai terletak tidak jauh dari korban. Bukti lain ada pada sampah plastik bekas bungkus gula yang terdapat sidik jari seseorang. Bukti sidik jari ini baru saja kutemukan dalam penyelidikanku siang tadi.
Beberapa saksi yang di tanyai alibinya ada tiga orang. Semuanya memiliki hubungan dekat dengan kedua korban. Ketiga orang itu, semuanya juga mencurigakan. Walaupun semua alibi yang dikatakannya sempurna, pasti ada yang berbohong tentang alibi saat waktu kejadian di antara ketiganya.
Aku menduga kalau pembunuhnya ada di antara ketiga orang itu. Namun, aku perlu menyelidiki lebih lanjut dan mencocokkan bukti yang kutemukan dengan kebenaran kasus ini guna membuktikan bahwa memang satu diantara ketiga orang itulah pelakunya.
Hubungan kedua korban sangatlah dekat, mereka berdua bersahabat karib semenjak mereka berumur 24 tahun. Mereka bertemu di London, Inggris ketika Akinfeev di tugaskan menyelidiki kasus pencurian uang di sebuah bank di Moskow, Rusia karena pelaku membawa kabur uang bank itu sampai ke London. Mereka bertemu di sebuah rumah makan, entah bagaimana akhirnya mereka bisa bersahabat amat dekat. Akinfeev memang sering datang ke London untuk bertugas. Hingga teman-teman Adam di London menjuluki mereka bagai amplop dan perangko atau monitor komputer dengan CPUnya.
Beralih pada pembicaraan semula tentang tiga orang yang saksi yang diduga tersangka.
Yang pertama sudah pasti adalah kekasih Adam Robert Browner yang berprofesi sebagai model papan atas bernama Grace Natalie. Saat diinterogasi, ia mengatakan bahwa pada kasus kematian kekasihnya ia sedang berada di sebuah restoran Italia yang berjarak 3 km dari hotel TKP karena ia sedang menunggu korban untuk membicarakan rencana pernikahan mereka, karena cukup lama menunggu, ia menelepon ke ponsel korban. Namun, ponsel korban tidak aktif. Ia mengatakan kalau ia sempat khawatir terjadi sesuatu dengan korban, ia memutuskan datang ke hotel TKP. Namun, ia terlambat. Saat ia datang ke TKP, kamar tempat kekasihnya menginap sudah ramai oleh kerumunan orang dan polisi. Sedangkan pada kasus kedua, ia mengatakan kalau ia tidak terlalu akrab dengan korban. Memang beberapa bulan yang lalu kekasihnya pernah mengenalkannya kepada Akinfeev saat berkunjung ke Inggris. ”Akinfeev hanya bilang pada saya kalau ia akan menyelidiki kasus pembunuhan Adam sendiri karena ia tidak bisa tinggal diam dan mempercayakan begitu saja kasus yang menghilangkan nyawa sahabatnya itu kepada kepolisian Indonesia”, kata Grace dengan menahan tangisnya.
Yang kedua adalah saudara tiri Adam Robert Browner, bernama Mariana Sarah Browner. Seorang wanita berkewarganegaraan Indonesia berusia 27 tahun. Ayah Adam dan Ibu Sarah yang orang Indonesia menikah sewaktu Sarah Browner berumur 12 tahun. Namun karena kecelakaan pesawat 4 tahun yang lalu Orang tua mereka tewas. Dan harta warisan peninggalan kedua orang tuanya sempat menjadi perebutan di antara keduanya. ”Sebelum dan sesudah Adam terbunuh saya berada di Surabaya, untuk meliput berita bersama rekan saya, begitu juga dengan terbunuhnya Akinfeev, setelah maupun sebelumnya, saya sedang berada di kantor saya, di Jakarta. Kalau anda tidak percaya, anda bisa tanyakan pada rekan kerja saya dan kantor stasiun televisi tempat saya bekerja. ”Begitulah hasil interogasi yang dilakukan kepada adik tiri Adam Browner ini. Hal ini sudah cukup membuktikan bahwa Sarah Browner memiliki alibi yang kuat. Sulit untuk menuduh Sarah sebagai pelakunya.
Yang ketiga adalah Direktur keuangan perusahaan yang di pimpin Adam Browner. Pria yang lebih muda dari Adam, ia berusia 30 tahun, berkewarganegaraan Jerman, bernama Miroslav Gomez. Beberapa minggu yang lalu Gomez terlibat pertengkaran dengan Adam. Penyebabnya adalah menurunnya kas keuangan perusahaan. Adam menuduhnya mengkorupsi uang perusahaan. Tidak lama setelah itu ia meminta cuti kepada perusahaan untuk berlibur bersama keluarganya ke Indonesia. Polisi sempat kesulitan menginterogasinya karena pria ini bersikeras menolak di bawa ke kantor polisi.
Lamunanku tersadar oleh langkah kaki yang tentu sudah kukenal sedang menuju pintu. Tidak lama kemudian pintu diketuk, dan aku membukanya.
Seorang polisi muda bertubuh tinggi ceking tapi berwajah tampan dan menyenangkan bernama David ada dihadapanku. David adalah patnerku yang di tugaskan bersama untuk menyelidiki kasus yang menyedihkan ini. ”Selamat malam Pak, saya datang kesini untuk membicarakan perkembangan kasus Adam Browner-Akinfeev. Apakah anda menemukan suatu petunjuk yang baru?”, kata David dengan wajah yang amat serius. ”Masuklah dulu David, kita bicarakan di dalam sambil menikmati secangkir teh panas”, kataku sambil tersenyum. “Terimakasih pak”, kata David sambil melangkah masuk lalu duduk di sofa. Aku memulai pembicaraan, “Penyelidikan yang kulakukan siang tadi cukup memberiku petunjuk tentang ketiga saksi yang amat mencurigakan itu.” Suasana hening sejenak, kami larut dalam pikiran masing-masing. Tidak lama kemudian dua cangkir teh panas sudah terhidang di meja tamu di hadapan kami. ”Saya juga curiga kepada ketiga saksi itu Pak, seharusnya ketiga saksi itu lebih baik berstatus sebagai tersangka. Tapi saya lebih curiga kepada tunagan Adam Browner. Karena menurut saya sikap dan tingkah lakunya sangat aneh saat ia tiba di hotel TKP”, kata David dengan penuh semangat. ”Hmm…ya David dugaanmu itu sama persis dengan dugaanku. Penyelidikanku siang tadi juga mulai memberi sinyal bahwa memang Grace Natalie pelaku dari dua kasus ini. Tapi perlu bukti sedikit lagi untuk dapat membuatnya mengakui perbuatannya dan memasukkannya ke dalam kurungan berpagar besi dalam waktu lama”, kataku dengan mata bersinar-sinar. David menatapku dengan kagum, ”Luar biasa Pak. Petunjuk apa yang anda temukan?”. Senyumku semakin lebar, ”Semuanya ada 3 petunjuk. Petunjuk yang pertama ada pada saat Grace datang tidak lama di lokasi kejadian, tanpa sadar ia berteriak histeris sambil menagis. Apa kau ingat David apa yang di katakannya?”. David melihatku sambil mengerutkan dahinya, kemudian ia tersenyum, ”Grace mengatakan’Adam sudah tewas’”. Aku menganggukkan kepalaku, ”Ya, padahal polisi atau dokter sekalipun belum tentu dapat memastikan kalau Adam sudah tewas tanpa mendekatinya dan memeriksa denyut jantung Adam. ”Aku menghentikan ucapanku”, minumlah tehnya dulu agar tenggorokanmu tidak kering. ”David tersenyum lalu meminum teh .
“Yang kedua adalah arah kedatangan Grace saat menuju ke kamar tempat terjadinya pembunuhan Adam. Kalau ia mengatakan ia datang dari luar hotel, seharusnya ia datang dari arah kanan, tetapi pada kenyataanya ia datang dari arah kiri yang arahnya menuju toilet umum. Bukti ini ada pada kamera pengawas hotel yang berada di tempat sekitar toilet. Dan siang tadi aku sudah membuktikannya. “David baru berkedip saat aku berhenti bicara, ”Anda menyelidikinya ke hotel itu lagi Pak ?”
“Tentu saja David. Aku menyelidikinya dan bilang pada pihak hotel untuk kepentingan penyelidikan.”
“Masalah yang ada pada poin ketiga ini adalah apa yang dilakukan Grace di dalam toilet. ”Lagi-lagi David memandangku tapi kali ini pandangannya menjadi bingung, “Bagaimana kalau Grace memang melakukan sesuatu yang seharusnya di lakukan di toilet. Maksudku….”, belum sempat ia melanjutkan kata-katanya aku memotongnya…
“Kalau Grace menuju toilet dalam keadaan terburu-buru karena khawatir akan keadaan tunagannya itu aneh. Bukankah dalam kamar Adam ada toilet? Lagipula kalau di luar kamar Adam telah ramai oleh kerumunan orang dan polisi dan ia tidak tahan ingin segera pergi ke toilet, mengapa kamera pengawas tidak memperlihatkannya berjalan dari luar menuju ke toilet?”
“Memang berbeda dengan kasus kedua saat tewasnya Akinfeev, Grace tidak ada di tempat. Tetapi ada satu lagi yang belum di selidiki polisi pada saat kasus pertama maupun kasus kedua. Polisi tidak mencari tempat menyimpan racun polonium itu secara detail. Tempat-tempat yang tidak mudah diketahui orang, misalnya bagian-bagian tertentu di toilet. Pelayan hotel mengatakan bahwa pembuangan di toilet umum itu agak macet dan belum di perbaiki saat aku akan masuk ke toilet. Hal ini membuktikan bahwa di dalam saluran pembuangan di toilet itu ada sesuatu kan?” Senyumku kembali mengembang.
David memandangku dengan heran sekaligus bercampur kagum dengan berkata, ”Anda luar bisa sekali Pak, dengan cepat anda dapat mencari bukti dan memecahkan teka-teki dalam kasus ini. Dan pertanyaan anda tadi biar saya jawab, menurut saya mungkin itu adalah botol kecil berukuran sekitar 10 cm, sehingga botol itu tidak jatuh ke dalam saluran pembuangan, melainkan menyumbat saluran pembuangan.”
“Tepat sekali David”, kataku sambil mengeluarkan 2 botol polonium dari saku celanaku, ”Aku menemukannya di dua toilet umum yang berbeda di hotel itu”.
“Oya, David ada dua hal lagi yang penting. Aku mendapat informasi dari seorang teman Grace pada saat mereka satu universitas. Ia mengatakan bahwa Grace masuk universitas kedokteran dan lulus dua tahun yang lalu. Tidak heran kalau Grace punya banyak teman yang berprofesi sebagai dokter. Ia dapat dengan mudah memperoleh polonium serta mengerti kegunaanya.”
“Berikutnya adalah pada saat kasus kedua terjadi, dalam kamar Akinfeev juga tidak ditemukan sidik jari ketiga saksi tersebut. Itu menandakan bahwa pelaku sangat waspada dan hati-hati. Mungkin pelaku menggunakan kaus tangan untuk menyentuh barang-barang korban”.
“Melihat kematian kedua korban yang di bunuh dengan cara yang sama persis menunjukkan pelaku yang sama, dan pelakunya menunjukkan orang yang dekat dengan korban karena pelaku meracuni korban dengan mudah. Pada kasus pembunuhan Adam, pelaku membuatkan Adam kopi sehingga dapat dengan mudah meracuninya. Sedangkan pada kasus pembunuhan Akinfeev, pelaku menuangkan racun pada cangkir berisi kopi dengan pura-pura akan membuat kopi untuk korban, mungkin korban sudah mulai mengetahui siapa pembunuh sahabatnya, Grace yang ketakutan seketika menyusun rencana dan membunuhnya. Dugaanku, Grace datang ke kamar tempat Akinfeev dibunuh untuk menanyakan seputar penyelidikannya. Grace yang sudah mengenal Akinfeev dapat dengan mudah beralasan ingin membuatkan kopi untuk mereka berdua dan ia tentu tidak lupa mencampurkan polonium itu ke dalam cangkir milik Akinfeev. Pekerjaan membuat kopi tidak sulit menggunakan kaus tangan, tetapi kalau merobek plastik pembungkus gula dengan keadaan gunting yang rusak dan tidak tajam, terlalu sulit jika menggunakan kaus tangan, maka Grace menggunakan tangannya untuk merobek plastik gula itu. Polisi yang menyelidiki hal ini mengira plastik itu sebagai sampah biasa. Namun, setelah aku perhatikan di plastik ini terdapat sidik jari seseorang, aku tidak tahu siapa, namun jika ini sidik jari Grace Natalie maka tidak salah lagi kalau dialah pelaku di balik semua ini”, ku berikan sobekan plastik bersidik jari itu ke David, David menyimpannya ke dalam plastik lain yang bening.
“Tapi Pak, mengapa Grace tidak segera mengambil barang bukti yang ia tinggalkan? Apalagi barang bukti yang anda temukan ini cukup penting. Jelas sekali kalau barang bukti ini ditemukan oleh orang lain, terutama bukti sidik jari pada plastik bungkus gula itu.Grace dapat dengan mudah masuk penjara”.Pertanyaan David yang sangat mudah ku jawab.
“David….David. Kalau soal itu cobalah tebak. Grace yang pintar, lulusan universitas kedokteran terkenal, sangatlah aneh kalau ia merencanakan pembunuhan yang cukup rumit ini dengan ceroboh. Lagipula ia sangat berani melakukan dua pembunuhan walaupun pembunuhan yang pertama sedang dalam penyelidikan polisi. Itu hanya ada dua alasan, Grace melakukan ini semua karena selain menunggu waktu yang tepat untuk mengambilnya atau karena ia meremehkan polisi. Selengkapnya bisa kau pastikan pada saat mengintrogasinya untuk yang kedua kalinya di kantor polisi nanti.”
“Wahh….rupanya kemampuanku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan anda Pak, saya harus lebih berlatih lebih giat lagi untuk dapat memecahkan kasus dengan mudah seperti anda. Oya Pak, tetapi apa motif Grace untuk melakukan pembunuhan kepada tunagannya sendiri, kepada Adam ?”, kata David dengan penasaran.
“Ah…iya David maaf, aku lupa mengatakannya padamu. Aku mendapatkan informasi dari salah seorang teman Grace. Grace bukanlah gadis manis yang baik hati. Grace Natalie adalah seorang gadis yang setiap malam suka keluar masuk bar. Kehidupannya glamour ala selebriti dan serba mewah. Sudah sejak berpacaran dengan Adam Browner sekitar setahun yang lalu Grace dililit hutang yang menumpuk dan jumlahnya sangat banyak karena judi.”
“Grace cuma ingin memakai uang Adam, dan terbukti sejak Adam tewas tiga minggu yang lalu, aku meminta tolong pada Sarah Browner, saudara tiri Adam Browner untuk memeriksa tabungan milik Adam Browner sendiri yang ada di bank tempat Adam menabung. Dan memang benar David, dugaanku tidak salah, tidak sedikit uang adam berkurang dan yang mengambilnya bisa kita tanyakan kepada pihak bank. Tentu tidak sulit untuk mencarinya. Direktur keuangan perusahaan milik Adam Browner pun membenarkan kalau selama berpacaran dengan Grace, Adam jadi suka berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uangnya. Grace selalu di manjakan dengan uang Adam.”
“Nah, David aku rasa kau sudah cukup jelas untuk mengerti kasus ini. Aku sungguh tidak menyangka kasus ini terjadi seperti ini. Sungguh ironis. Sepasang kekasih yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan, seharusnya menantikan hari itu dengan bahagia. Namun, kebahagiaan itu berubah menjadi sebuah kisah yang menyedihkan. Begitu juga dengan Adam dan Akinfeev, kisah ini sungguh tragis. Dua orang sahabat harus sama-sama terbunuh di tangan orang yang sama, di tempat yang sama, oleh racun yang sama dan tanpa sebab yang jelas. Karena hingga saat ini aku masih sulit untuk memahami alasan mengapa seseorang membunuh orang lain. Karena menurutku tidak ada alasan yang tepat untuk saling membunuh”.
“Saya sangat kagum pada anda Pak, anda detektif kepolisian Indonesia yang paling hebat yang pernah saya ketahui. Beruntung sekali saya dapat bekerja sama dengan anda. Saya kira negara ini juga sangat beruntung memiliki orang seperti anda”.
“Kau terlalu berlebihan David. Sudahlah lebih baik laporkan hasil kerja kita, penyelesaian teka-teki kopi polonium yang cukup rumit ini ke kepolisian pusat, mungkin aku tidak dapat ikut denganmu karena aku harus mengunjungi sahabatku di luar kota, dan aku harus berangkat pagi. Oya David, jangan lupa pula sampaikan salamku kepada semuanya”.
“Tentu saja pak, akan saya sampaikan salam anda. Besok saya akan menelepon anda mengenai laporan saya tentang kasus ini. Saya pamit dulu Pak, selamat malam”, kata David sambil berjabat tangan denganku.

Ku antar David sampai ke pintu, setelah ia berlalu kututup pintu. Kurebahkan kembali tubuhku ke sofa dan menghabiskan sisa tehku. Setelah itu aku bangkit menuju kamar untuk tidur.
Alarm jam yang ku setel berbunyi, aku bangun, secepat kilat menuju kamar mandi lalu mandi. Tidak lama setelahnya aku telah bersiap-siap di meja makan sambil membaca koran. Berita pagi ini membuatku benar-benar puas dengan penyelidikanku. Harian pagi itu menyebutkan berita utamanya:

“Grace Natalie Pelaku Pembunuhan Adam Robert Browner dan Andrey Akinfeev.”

6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. permisi, apakah ada cerpen "teka-teki polonium" yang kelihatan paragrafnya (yg menjorok kedalam), kalau ada mohon inform. thx

    BalasHapus
  3. Disini kalo gua jawab dapet HADIAH gak ea?
    Kaya yang disitus WWW.TEKA-TEKI.COM itu guys..
    Disana gua udah 3 kali menang & dapet pulsa 15ribu.

    Lumayan bwt telponan hihi

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Sekedar Informasi, blog ini telah diambil alih orang lain dan saya (pemilik) tidak bisa mengaksesnya lagi. silahkan mengunjungi blog saya yang masih aktif titissp.blogspot.com

    BalasHapus